MAU SUKSES!! BUKAN BASA-BASI & DAHSYAT.. .....

Jumat, 04 Mei 2012

Usung Merek Lokal di Tengah Serbuan Sepatu Impor

Usung Merek Lokal di Tengah Serbuan Sepatu Impor
— Mengusung merek lokal dan manejemen sendiri, AB Shoes, merek sepatu usaha kecil menengah, tetap berdiri kokoh menghadapi gempuran produk sepatu impor yang beredar di Sumatera Utara.
Muliadi, pemilik usaha sepatu AB Shoes, didampingi Ben Sugito, kordinator CDSA Telkom wilayah Medan, saat berdiskusi di Kantor Tribun Medan, Jalan Wahid Hasyim No 37 Medan, Selasa (10/4/2012), mengatakan, pemasaran sepatunya dilakukan secara door to door. ”Meski penjualan masih dari door to door, tetapi sepatu saya sudah sampai ke Mabes Polri, setiap hari saya bisa mendapat orderan 20 pasang sepatu,” kata Muliadi sambil menunjukkan isi SMS yang dikirim ke selulernya dari seorang jenderal.
Berbahan kulit sapi berkualitas tinggi, AB Shoes yang berasal dari kota kecil Binjai di Jalan Padang Sidempuan Gg Pelita I No 5 tetap memiliki penggemar tersendiri sehingga bisa memproduksi 780 pasang sepatu tiap bulan.
Berawal dari tahun 1999. Setelah cukup punya pengalaman sebagai penjual sepatu, Mulyadi mencoba peruntungan membuat sepatu dengan merek AB Shoes.
Nama merek ini pun diambil dari nama anaknya yang bernama Ari Bowo. Namun, katanya, nama tersebut memiliki peruntungan tersendiri sehingga ia mempertahankan merek itu di setiap pasang sepatu buatannya. ”Setiap hari produksi UKM saya bisa 30 pasang sepatu, dengan catatan setiap hari minggu berhenti beroperasi agar karyawan bisa menikmati hari libur,” kata Mulyadi. Ia mengaku saat ini sudah memiliki 15 pekerja.
Ia terkadang sampai kelimpungan melayani pesanan. Sampai saat ini konsumen mitra binaan Telkom dari program kemitraan (PK) tersebut banyak berasal dari kalangan kepolisian.
Kendati demikian, pelaku UKM tersebut masih membutuhkan bantuan agar bisa berkembang menyejajarkan diri dengan perusahaan besar yang sudah mengeluarkan produk sepatu dengan merek ternama.
Impian tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. ”Impian usaha ini menjadi perusahaan besar, sih, ada, tetapi harus ada dukungan dari banyak pihak, termasuk pemerintah,” katanya.
Beruntung tahun 2008 Telkom datang membantu meminjamkan dananya dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang disisihkan dari laba BUMN tersebut untuk membantu permodalan UKM. Awalnya Muliadi megaku mendapat kepercayaan memperbaiki sepatu seorang pejabat di Telkom, ”Ia ingin sepatunya kembali dalam keadaan baru,” ujar Muliadi.
Tak tanggung-tanggung, sepatu yang harus diperbaikinya mencapai 15 pasang. Sampai akhirnya Muliadi mendapat tawaran untuk mendapatkan permodalan dari pejabat tersebut.
Ia mengatakan bahwa pejabat tersebut kemudian memesan 400 pasang sepatu dengan limit waktu dua bulan. Namun, Muliadi menyiapkan pesanan tersebut hanya dalam waktu 1,5 bulan. ”Ia puas dengan produk sepatu buatan saya,” ujarnya. (Fahrizal Fahmi Daulay/Tribun Medan)SUMBER KOMPAS

Budidaya Jamur Beromzet Jutaan

Ogah "Nganggur", Orbits Budidaya Jamur Beromzet Jutaan

— Sekelompok pemuda di Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sukses membudidayakan jamur tiram putih. Hasilnya, tiap bulan mampu membukukan omzet jutaan rupiah.
Adi Radius, koordinator pemuda setempat, mengatakan, ide awal pembudidayaan jamur yang bernama Latin Pleorotus ostreatus tersebut bermula dari banyaknya pemuda setempat yang menganggur. "Kita berharap aktivitas ini membuat para pemuda mempunyai kegiatan yang positif dan tidak terjerumus pada kegiatan negatif," kata Adi, Senin (2/4/2012).
Tempat pembudidayaannya cukup sederhana. Hanya terbuat dari gubuk seluas 4 x 7 meter yang beratapkan anyaman daun tebu. Sementara anyaman daun kelapa digunakan sebagai dinding untuk membantu kelembaban ruangan. Di dalam ruangan itu berjajar 6.000 baglog (media tanam jamur yang berupa plastik berisi serbuk kayu dan berbagai komposisi tambahan) yang tertata rapi di atas rak.
Setiap harinya para pemuda itu secara bergantian menyiramkan air dengan cara disemprotkan ke setiap baglog. Pelubangan log juga diperlukan untuk menambah jumlah tempat tumbuhnya jamur. "Penanamannya tidak sulit, hanya butuh ketelatenan dan kesabaran. Masa panennya juga relatif cepat, hanya sebulan dari tanam," imbuhnya.
Sirkulasi hasil panenannya, menurut Adi, selain para pembeli tetap yang setiap hari datang, juga disalurkan ke pasar-pasar tradisional di sekitar Kota Kediri. Setiap kilonya dihargai Rp 12.000.
Para pemuda desa itu memulai pembudidayaannya pada tahun 2010 silam dengan modal awal yang terkumpul secara swadaya sebesar Rp 30 juta. Kini, setiap bulannya kelompok yang mengatasnamakan Organisasi Bina Taruna Sosial (Orbits) tersebut mampu membukukan omzet yang lumayan besar untuk sebuah usaha di desa, yaitu Rp 10 juta. "Setidaknya dengan aktivitas ini mampu menambah waktu untuk menyibukkan diri. Sekaligus ada hasilnya secara materi," pungkas Adi.SUMBER KOMPAS

Resto Bebek dari Surabaya Mencari Mitra

Resto Bebek dari Surabaya Mencari Mitra

KONTAN/ BEBEK ABI
KOMPAS.com - Menu olahan dari daging bebek memang semakin naik daun. Bahkan, menu ini sudah menjadi favorit banyak orang. Berbagai macam olahan daging bebek, seperti bebek goreng dan bebek bakar, laris manis di pasaran.

Tak heran bila gerai-gerai yang menawarkan menu bebek terus bermunculan. Usaha ini semakin marak dengan bermunculannya pemain yang menawarkan waralaba atau kemitraan.

Salah satu tawaran kemitraan usaha ini datang dari Bobby Hendrawan, pemilik Bebek Abi 1983. Usaha yang berbasis di Surabaya ini mengusung resep masakan bebek bakar dan goreng bumbu kuning. Menu lainnya adalah bebek kremes. Harganya bervariasi antara Rp 16.000 hingga  Rp 18.000 per porsi.

Menurut Bobby, usaha ini warisan orangtua yang sudah buka sejak tahun 1983 di Surabaya. "Saya kembangkan tahun 2009 dengan brand Bebek Abi 1983," jelasnya.

Saat ini, Bebek Abi 1983 memiliki dua restoran yang dikelola sendiri. Letaknya di Surabaya dan Mojokerto. Dalam sehari, satu restoran itu omzetnya berkisar antara Rp 2,5 juta hingga Rp 5 juta. Adapun laba bersih yang diraup sebesar 25 persen-30 persen.

Bobby mulai menawarkan kemitraan sejak tahun 2011. Hingga saat ini Bebek Abi 1983 sudah memiliki 15 mitra yang tersebar di sejumlah daerah, seperti Tasikmalaya, Makassar, Kendari, Kediri, dan Malang. "Tahun ini mau buka di Jakarta," tukasnya.

Dalam kerjasama ini, ada dua paket kemitraan yang ditawarkan. Pertama, paket gerobak express dengan konsep booth senilai Rp 25 juta. Dalam paket ini mitra akan mendapatkan peralatan masak dan makan, seperti kompor, penanak nasi, piring, sendok, garpu dan lainnya. Hitungan Bobby, jika si mitra bisa menangguk omzet Rp 400.000 per hari, balik modalnya bisa terjadi di bulan keenam.

Paket kedua adalah paket warung express senilai Rp 150 juta. Investasi ini sudah termasuk brand fee senilai Rp 50 juta. Mitra juga mendapatkan peralatan lengkap ditambah banner dan spanduk promosi serta instalasi restoran. "Mitra juga mendapat pelatihan masak. Sementara yang gerobak kami pasok bumbu jadi saja," kata Bobby.

Dalam paket ini, omzet mitra diperkirakan Rp 1,5 juta per hari. Dengan omzet tersebut, mitra bisa balik modal di bulan ke-13. "Tapi tentu target omzet terus kami tingkatkan, sehingga bisa mencapai Rp 5 juta per hari," tandasnya.

Dalam kerjasama ini, Bebek Abi 1983 tidak memberlakukan royalty fee, sehingga mitra bisa lebih cepat balik modal. Bagi mitra yang berminat, harus menyediakan lokasi usaha yang strategis dan dekat dengan keramaian.

Lokasinya bisa di pusat perbelanjaan atau perkantoran. Untuk paket warung express, dibutuhkan tempat berukuran 5 meter x 15 meter. Adapun paket gerobak lebih mengincar lokasi-lokasi di pusta perbelanjaan. "Namun ada biaya tambahan untuk instalasi restoran, dengan perhitungan biaya Rp 2,5 juta per meter persegi," tambah Bobby.

Dia mengaku tidak mematok target penambahan jumlah mitra secara khusus. Menurutnya, dalam menambah jumlah mitra tidak bisa asal banyak, tapi juga harus memperhatikan faktor lokasi.

Untuk gerai milik sendiri, rencananya tahun ini, Bobby akan membuka satu resto lagi di Surabaya. "Kemarin kami baru dapat lokasi yang bagus," ucapnya.

Pietra Sarosa, pengamat waralaba dari Sarosa Consulting, memandang, bisnis kuliner bebek memiliki prospek yang bagus dalam jangka panjang. Menurutnya, sebagai pilihan alternatif ayam, bebek memiliki penggemar tak sedikit. Namun, ia bilang, pemain di bisnis ini sudah banyak, sehingga perlu ciri khas agar bisa bersaing. "Keunikan itu harus dikreasi dalam rasa lewat bumbu yang mewakili daerah asalnya," tuturnya.

Dari segi rekam jejak, Bebek Abi 1983 tak perlu diragukan. Namun, sisi historis itu bukan jaminan mereka eksis di waralaba. "Mereka harus membuat manajemen yang baik," ujar Bobby.  (Eka Saputra, Fahriyadi/Kontan) SUMBER KOMPAR

Gairah Bisnis Tenun Ikat

Gairah Bisnis Tenun Ikat
Usaha tenun ikat manual butuh kesabaran dan ketekunan. Apalagi, harus memanfaatkan bahan baku benang dari kapas lokal (asli) hasil budidaya kelompok sendiri. Usaha semacam ini hanya dijalankan 42 kelompok tenun ikat dari suku Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tenun ikat berbahan kapas asli lebih mahal dan bernilai adat tinggi.

Masyarakat di 21 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki keterampilan tenun ikat dengan motif bervariasi. Namun, hampir sebagian besar kelompok menggunakan bahan baku benang toko atau pabrikan. Benang yang lebih mudah diperoleh.

Maria Yovita Meta (49) adalah satu dari sekian penggiat tenun ikat di NTT yang masih mempertahankan tenun ikat dari kapas lokal. Ditemui di Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Senin (26/3/2012), ia sedang membina 30 pelajar perempuan dari beberapa sekolah di kota itu. Pembinaan sejak tahun 2007 itu dilakukan karena kian sedikit kaum perempuan berminat dalam keterampilan ini.

”Ini bagian dari pendidikan ekstrakurikuler sekolah. Saya ke dinas pendidikan dan kebudayaan serta sejumlah sekolah meminta mereka mendukung program ini. Mereka setuju, para siswa dilatih, kemudian melatih teman-teman mereka,” kata Meta.

Direktris Yayasan Taveam Pah ini juga membina 75 kelompok tenun ikat. Sekitar 42 kelompok fokus pada tenun ikat berbahan kapas dan 33 kelompok lain memilih benang toko. Setiap pekan, secara bergilir Meta dan tiga anggota staf mengunjungi kelompok binaannya. Kelompok yang mandiri cukup diamati dari jauh lewat hasil karya yang dikirim ke yayasan. Sekitar 66 motif tenun ikat dari suku Biboki segera dipatenkan. Tenun ikat Biboki dengan keanekaragaman motif kini juga menjadi bahan studi.

Ke-42 kelompok binaan ini beranggotakan 750 orang. Tiap kelompok beranggota 10-15 orang. Mereka tersebar di 12 desa di tiga kecamatan, khusus suku Biboki.

Meta yang lulus dari sekolah kepandaian putri ini selalu menekankan kepada kelompok agar wajib menanam kapas. Juga menanam tanaman tarum untuk pewarnaan.

Buah kapas yang dipanen lalu dijemur, dibersihkan, dan dipintal jadi benang secara berkelompok. Proses pintal benang ini biasanya berlangsung malam hari atau saat hari libur.

Satu kelompok dalam sehari menghasilkan 5-7 tukal benang atau satu kain sarung. Semua anggota harus berperan aktif pada hari yang sama.

Hasil tenun diantar ke Meta. Selendang panjang 1 meter dan lebar 20-40 sentimeter dihargai Rp 150.000-Rp 400.000 per lembar. Harga tergantung dari tingkat kesulitan proses mengadakan benang sampai menjadi kain. Sementara sarung panjang 1,7 meter dan lebar 1,5 meter dijual Rp 1,7 juta-Rp 2,5 juta. Sarung berbenang kapas jelas lebih mahal.

Hasil tenunan dengan bahan benang toko hanya Rp 50.000-Rp 200.000 per selendang. Sarung dijual Rp 250.000-Rp 750.000 per lembar.

Diekspor

Tenunan berbahan kapas lokal lebih diminati turis. Tenunan ini sebagian besar dikirim ke Australia, Jerman, dan Belanda untuk dipamerkan. Tenunan asli juga untuk mas kawin, urusan adat, dan penghargaan kepada raja-raja Timor. Nilai adatnya tinggi.

Tahun 1999, Museum Darwin memesan 3.000 lembar kain sarung asli senilai Rp 2 juta per lembar. Dua pekan kemudian, mereka mengirim 2.000 dollar Australia untuk pembelian 50 lembar sarung lagi.

Usaha tenun ikat ini digeluti sejak tahun 1989 setelah Meta mengikuti studi banding ke Sabu Raijua, NTT, bersama sejumlah ibu dari Australia, Medan, dan Singapura. Dia mengumpulkan 10 anggota PKK, kemudian menggeluti usaha itu.

Kelompok binaan Meta terus berkembang. Ia mengaku sudah membina ribuan kaum ibu dan pria dalam bentuk kelompok. Ada juga yang lantas membuka usaha sendiri.

Ke-42 kelompok tenun ikat binaan Meta menghasilkan 600-700 lembar sarung per tahun, juga 2.000-2.500 lembar selendang. Kain biasanya dijual ke Yayasan Taveam Pah atau langsung ke pasar setempat.

Satu anggota dapat menghasilkan 3-5 sarung, termasuk selendang. Sarung dijual Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta per lembar. Hasil penjualan sangat membantu biaya pendidikan anak, membangun rumah, dan kesehatan.

Namun, karena hampir semua keluarga punya keterampilan tenun ikat, Yayasan Taveam Pah membelinya, kemudian menjualnya ke Kupang, Surabaya, dan Denpasar, bahkan ke luar negeri. Ekonomi keluarga pun maju sekaligus budaya pun langgeng.SUMBER KOMPAR

Manisnya Budidaya Ikan Sidat

Manisnya Budidaya Ikan Sidat
  :
JAKARTA, KOMPAS.com- Budidaya sidat kini menjadi salah satu usaha menjanjikan dan beromzet tinggi. Komoditas sidat masih terbatas dikarenakan belum ada teknologi untuk pemijahan, sehingga harga di pasaran terbilang cukup tinggi.
Permintaan sidat atau kerap disebut unagi di pasar internasional mencapai 300.000 ton per tahun. Dari total kebutuhan tersebut, permintaan Jepang terhadap jenis unagi kabayaki 150.000 ton per tahun.
Selain itu, peminat ikan berlendir ini berasal dari Hongkong, Korea Selatan, China, dan Taiwan.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Subiakto, dalam siaran pers, Minggu (22/4/2012), mengemukakan, permintaan di dalam negeri juga sangat besar dan belum bisa terpenuhi.
Di Jakarta, permintaan sidat sudah mencapai 3 ton per bulan, seiring bertumbuhnya restoran Jepang. Harga sidat saat ini mencapai Rp 300.000 hingga Rp 600.000 per kg.
Masyarakat akan didorong agar mau membudidayakan sidat ini yang memiliki nilai tinggi. "Indonesia merupakan negara penghasil sidat terbesar di dunia, karena hampir setiap muara di perairan indonesia terdapat sidat," kata Slamet dalam acara kunjungan kerja ke PT Jawa Suisan Indah di Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat.
Meski demikian, budidaya sidat masih terkendala pakan. Pemilik PT Jawa Suisan Indah, Ishitani, mengemukakan, pakan untuk sidat masih menjadi kendala dan belum ada yang sesuai  di Indonesia.
Pihaknya menyiasati dengan memakai pakan udang untuk pakan sidat. Kendala budidaya juga membuat pabrik pengolahan sidat miliknya masih kekurangan bahan baku. "Kapasitas pabrik sekitar 2000 ton, tetapi produksi pabrik ini belum optimal, baru mencapai 300 ton/tahun," jelasnya.
Sidat dikenal memiliki nilai gizi tinggi. Hati ikan sidat memiliki 15.000 IU/100 gram kandungan vitamin A. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram. Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram.
Selain Indonesia, pengekspor sidat lain adalah Eropa, China, Amerika.

BISNIS AYAM GORENG KHAS PADANG

Menjajal Bisnis Ayam Goreng Khas Padang
|

 
 Tawaran waralaba atau kemitraan di bisnis kuliner olahan ayam masih terus bermunculan. Tawaran terbaru datang dari Rimbozz Chicken & Burger yang berbasis di Padang, Sumatera Barat. Nilai investasinya mulai Rp 4,9 juta-Rp 50 juta. Sementara omzet mulai Rp 9 juta-Rp 30 juta.

Bisnis kuliner berbahan baku ayam agaknya masih belum jenuh. Buktinya, pemain di usaha ini terus bertambah. Bahkan tak sedikit yang menawarkan usaha ini lewat jalur kemitraan atau waralaba.

Nah, tawaran waralaba terbaru usaha ayam goreng datang dari Rimbozz Chicken & Burger yang berbasis di Padang, Sumatera Barat. Berdiri sejak 2007, Rimbozz Chicken & Burger resmi menawarkan waralaba di awal tahun ini.

Faisal Ichal, pemilik Rimbozz Chicken & Burger mengaku, saat ini sudah ada dua calon terwaralaba yang berminat bekerja sama dengannya. "Sekarang sedang kami proses," ujarnya.

Saat ini, Faisal sudah memiliki lima gerai milik sendiri di Padang. Ia mengklaim, kelima gerai berkonsep resto itu beromzet Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per hari. Dengan laba 30 persen, rata-rata gerai milik Faisal bisa balik modal di bulan keempat. "Karena kinerja bagus itu, saya berani menawarkan waralaba," ujarnya.

Faisal menawarkan tiga paket waralaba. Pertama, paket kios dengan konsep gerobak senilai Rp 4,9 juta. Dalam paket ini, terwaralaba mendapatkan booth, peralatan masak, seragam, banner promosi, serta bahan baku senilai Rp 500.000.

Dalam paket ini, omzet terwaralaba ditargetkan mencapai Rp 300.000 per hari atau Rp 9 juta per bulan. Dengan laba 25 persen-30 persen, mitra bisa balik modal di bulan kedua. "Khusus paket ini tak ada biaya royalti," ujarnya.

Kedua, paket corner senilai Rp 35 juta. Paket ini mengusung konsep restoran mini dengan luas 16 meter persegi. Terwaralaba akan mendapat instalasi booth dan peralatan tambahan, seperti kulkas, meja, dan kursi.

Selain itu, mereka juga akan mendapatkan bahan baku senilai Rp 1 juta. Omzet paket ini diperkirakan Rp 775.000 per hari atau Rp 23,2 juta per bulan. Dengan laba 25 persen-30 persen, mitra balik modal sekitar tujuh hingga delapan bulan. Di paket ini ada biaya royalti 4 persen dari omzet.

Terakhir, paket restoran senilai Rp 50 juta. Kriteria luas gerainya mencapai 50 meter persegi. Paket ini sudah termasuk desain interior ruangan dan tambahan meja kasir. Omzet mitra yang mengambil paket ini ditargetkan Rp 1 juta per hari atau Rp 30 juta per bulan.

Adapun masa balik modal diperkirakan terjadi di bulan ke sembilan hingga bulan ke-12. Dalam paket ini dikenakan biaya royalti 5 persen.

Selain ayam goreng dan burger, Rimbozz Chicken menawarkan menu lain, seperti chicken teriyaki dan chicken steak. Harganya Rp 9.000-Rp 14.000 per porsi. Semua menu disajikan dengan bumbu tradisional khas Padang.

Erwin Halim, konsultan waralaba dari Proverb Consulting menilai, tawaran waralaba dari Rimbozz Chicken & Burger cukup menarik, khususnya di wilayah Sumatera. Apalagi paket yang ditawarkan cukup murah sehingga bisa terjangkau mitra berkantong tipis.

Namun, jika ingin menggandeng mitra di Jakarta, sebaiknya Rimbozz melakukan tes pasar dulu. Soalnya, selain persaingan ketat, mereka juga perlu membangun kepercayaan konsumen bahwa produknya sesuai selera pasar. “Sebaiknya, buka cabang dulu di Jakarta. Kalau sukses, mitra pasti datang,” ujarnya. (Eka Saputra/Kontan) SUMBER KOMPAS
--------------------------------------------------------
Rimbozz Chicken & Burger
Jl. By pass Tanjung Sabar No.8 Lubuk Begalung,
Padang , Sumatra Barat
Telp: 0751.977 3 977
Hp. 0812 6666 6777
Email : info@rimbozz.com
 

GAJI DAN JABATAN BUKAN PENCAPAIAN TERBAIK

Mayoritas masyarakat biasanya beranggapan bahwa gaji dan jabatan adalah tolok ukur dalam berkarier. Gaji besar dan jabatan tinggi seringkali dianggap sebagai hal yang wajib dicapai. Namun Career Coach Rene Suhardono tidak sependapat dengan pandangan tersebut. "Karena pencapaian terbaik itu bukan karena kita menjadi CEO, pencapaian paling gokil ketika kita tajir, tapi ketika kita bergerak di passion kita dengan kepedulian yang nyata," sebut Rene, dalam sesi talkshow di Kompas Karier Fair 2012, Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (28/4/2012). Passion atau lentera jiwa atau api kecil, menurut dia, telah dipunyai setiap orang. Ketika kita bekerja dengan hal itu maka kita akan menemukan kepuasan yang luar biasa. Namun, passion bukan terletak pada profesi pekerjaan. Menjadi seorang pengusaha bukanlah passion. Profesi tersebut hanya sebatas caranya. "Passion itu ada di aktivitasnya bukan profesi," tegas Rene. Apa ciri bekerja dengan passion? Bekerja dengan passion dapat dirasakan ketika dalam aktivitas pekerjaan yang ditekuni, kita merasa kuat. Bahkan karena senangnya bekerja, bisa saja kita kita lupa waktu. "Di antara aktivitas yang kita jalani itu kita merasa kuat. Itu gua banget. Kalau perlu gua nggak dibayar. Capek sih tapi gua merasa kuat," terang Rene dengan gaya bicara yang bersemangat. Rene pun mengingatkan bahwa jangan pernah tanya tentang jaminan. Tidak ada yang bisa menjamin diri kita dalam berkarier. Usaha yang lebih harus dilakukan. Kita pun harus sebisa mungkin mempunyai koneksi dengan sejumlah orang yang menjadi inspirasi bagi karier kita. "Nggak ada passion kalau lo nggak berkarya," pungkas dia. (sumber kompas)