MAU SUKSES!! BUKAN BASA-BASI & DAHSYAT.. .....

Jumat, 04 Mei 2012

Berburu Untung Ayam Goreng dari Yogyakarta

Berburu Untung Ayam Goreng dari Yogyakarta
Share:
- Bisnis makanan olahan ayam tak pernah surut. Hadir dengan berbagai variasi menu, makanan olahan ayam tetap diburu konsumen. Tak heran, bila pengusaha makanan ini terus bermunculan.

Bukan hanya di pusat belanja, gerai-gerai yang menawarkan menu ayam juga bermunculan di pinggir-pinggir jalan atau kompleks perumahan. Usaha ini semakin marak dengan bermunculannya pemain yang menawarkan waralaba atau kemitraan.

Tawaran kemitraan terbaru datang dari PT Melia Pilar Utama (Melia Group). Sebelumnya, Melia Group telah dikenal sebagai pewaralaba bisnis binatu. Sebagai pendatang baru di bisnis kuliner ayam, Melia Group menawarkan kemitraan gerai ayam goreng dan ayam bakar Taman Siswa (Tamsis) milik Gatot Agus Wahyono. "Tawaran kemitraan ini merupakan hasil kerja sama kami dengan Pak Gatot selaku pemilik ayam goreng dan ayam bakar Tamsis," kata Fen Saparita, pemilik Melia Group.

Fen berharap, kolaborasi Ayam Tamsis dan Melia Group yang berpengalaman di bidang masing-masing dapat memajukan gerai ayam berkonsep resto tersebut. Dalam kerja sama itu, Melia Group berperan sebagai pengelola waralaba.

Tawaran waralaba sendiri baru dibuka Januari lalu. Dan, saat ini sudah ada lima calon mitra yang serius ingin bekerja sama. "Di antaranya berada di Jakarta, Solo, dan Bali," ujar Fen.

Ia menargetkan, jumlah mitra tahun ini sebanyak 12 sampai 15 mitra. Kepada calon mitra yang berminat, Melia Group menyiapkan dua paket investasi. Yakni, paket resto Rp 365 juta dan mini resto senilai Rp 245 juta. Nilai investasi itu berlaku untuk masa kerja sama selama lima tahun.

Selain itu, mitra juga akan mendapat peralatan lengkap dan bahan baku awal. "Yang membedakan dua paket tersebut hanyalah ukuran gerai dan jumlah bahan baku yang disediakan, namun secara konsep dan menu sama," ungkapnya.

Untuk harga jual diserahkan pada mitra. "Kami persilakan mitra melakukan penyesuaian harga sesuai lokasi dan kota masing-masing," jelasnya.

Terkait dengan omzet juga bisa berbeda-beda, tergantung lokasi dan harga. Contohnya, gerai Ayam Tamsis di Yogyakarta. Selama ini gerai tersebut selalu ramai diserbu pembeli karena harga yang ditawarkan masih terjangkau di kisaran Rp 7.500-Rp 8.000.

Dalam sehari, gerai ayam Tamsis bisa menjual hingga 100 kilogram (kg) ayam, dengan omzet harian mencapai Rp 10 juta. Ia memperhitungkan, jika lokasi memungkinkan, maka mitra bisa memperoleh penghasilan serupa di kota lain.

Dengan omzet sebesar itu dan dipotong royalty fee 5 persen dari omzet, maka mitra bisa balik modal dalam waktu 1,5 tahun. "Untuk paket mini resto kami memperhitungkan omzet mitra Rp 7,5 juta per hari," ungkapnya.

Menurut Fen, kelebihan Ayam Tamsis terletak pada bumbu khas Yogyakarta yang memadukan rasa manis dan asin. Selain rasa, ayam bakar dan ayam goreng di gerai ini juga memiliki tulang empuk. "Kami berharap bisa membuat gebrakan baru di tengah persaingan yang ketat dalam bisnis kuliner ayam," harapnya.

Bije Widjajanto, pengamat Waralaba dari Ben WarG Consulting menilai, prospek usaha resto ayam goreng dan ayam bakar masih cukup baik. Namun ada banyak hal yang harus diperhatikan, termasuk brand. Menurutnya, brand Ayam Tamsis sudah lumayan kuat.

Sementara perkiraan omzet di atas Rp 5 juta per hari dinilainya masih wajar untuk ukuran resto. "Sisi positifnya secara brand sudah baik, namun hal itu bukan jaminan bakal langsung sukses," imbuh Bije.

Menurut Bije, mengembangkan gerai kedua dan seterusnya cenderung lebih sulit jika gerai pertama sudah telanjur sukses dan dikenal masyarakat dalam waktu lama. (Fahriyadi/Kontan)
 

Gurih Laba Usaha dari 'Tutut' Rebus

Gurih Laba Usaha dari 'Tutut' Rebus
KOMPAS.com - Jika Anda kebetulan melintas di Jalan Abdullah Bin Nuh, Taman Yasmin Bogor, Jawa Barat, sempatkan sejenak mampir dan membeli keong rebus yang dijual di sepanjang jalan itu. .

Keong rebus yang dijual itu adalah keong sawah yang rasanya hampir mirip dengan kerang laut. Masakan ini pas disantap bersama nasi putih hangat. Di masyarakat Sunda, keong sawah ini biasa disebut dengan tutut.

Terdapat sekitar 50 pedagang tutut rebus yang mangkal di sepanjang Jalan Abdullah Bin Nuh, Bogor. Selain memakai gerobak, banyak juga pedagang yang menggunakan mobil untuk menjajakan dagangannya

Setiap pedagang menyediakan kursi atau alas tikar bagi pembeli yang ingin makan di tempat. Namun, tidak sedikit pula pelanggan yang minta dibungkus untuk dibawa pulang.

Salah satu pedagang tutut rebus di daerah ini adalah Ade. Untuk memperkaya rasa, Ade menambahkan berbagai variasi bumbu, seperti original, rendang, asam manis, saus tiram, bumbu pedas, dan rasa kari.

Untuk tutut rebus rasa original dibanderol Rp 3.000 per porsi. Sedang keong rasa saus tiram dihargai Rp 5.000 per porsi. Dari berjualan tutut ini, Ade mengaku bisa menjual 30 kilogram (kg) sampai 50 kg tutur rebus per hari. “Laba bersih saya sekitar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari,” katanya.

Pedagang lainnya adalah Abdul Muhyi yang mengusung merek dagang Tutut Mang Oyeng. Dengan tiga gerobak dagang, ia bisa menjual tutut rebus sebanyak100 hingga 300 porsi per hari. " Pendapatan saya berkisar Rp 200.000, Rp 300.000, hingga Rp 400.000 per hari,” katanya.

Rezeki berjualan tutut rebus juga diperoleh Giyanto. Bedanya, ia menjajakan barang dagangannya di mobil. Dalam sehari ia bisa menjual 20 kilogram tutut rebus, dengan pendapatan berkisar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari. "Tutut ini banyak yang mencari karena bagus buat kesehatan," ucapnya.

Bahan tutut biasanya dibeli dari pembudidaya keong sawah di Cianjur. Selain itu, ada juga yang membeli dari petani di Bogor.

Giyanto sendiri membeli dari Pasar Anyar Bogor. Namun belakangan, para pemburu tutut di pasar semakin banyak. “Kalau mau beli di pasar, sudah harus menunggu dari jam dua pagi,” katanya. (Eka Saputra/Kontan)
 

Sri Berinovasi dengan Kue Non-Terigu

Sri Berinovasi dengan Kue Non-Terigu

Kompas.com/Ester Meryana Sri Murhatiningsih, pemilik usaha Hannah Cake&Cookies, bertemu dengan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, di Kementerian Perdagangan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

 
KOMPAS.com - Dalam berbisnis harus berinovasi. Tanpa inovasi, bisnis bak sayur tanpa garam. Bisnis dengan cara yang beda dari yang biasa itulah yang dilakukan seorang Sri Murtiningsih. Ia adalah pemilik usaha Hanah Cake and Cookies. Usaha kue telah digeluti Sri sejak ia kuliah.
Sekitar tahun 1992-1994, ia menjajakan kue untuk acara pernikahan. Pernah ia menjual kue sebanyak 1.500 potong untuk satu pesanan saja. "Tapi terputus karena selesaikan kuliah," ujar Sri kepada Kompas.com, Minggu (18/3/2012).
Usaha kuliner ini pun dilanjutkannya pada tahun 2003. Sri yang pekerjaannya ibu rumah tangga ini melanjutkan usaha karena untuk kebutuhan mendesak di keluarganya. "Waktu itu jujur karena kepepet. Suami nggak punya ongkos," cerita dia.
Kala itu, ia menjual cake biasa dengan bahan dasar tepung terigu. Ia pun menjualnya dengan cara menitip di empat toko sekitar Depok. Ia juga menitip kue di lima fakultas di Universitas Indonesia hingga ke Sucofindo dan Bidakara. Dalam satu hari, ia membuat satu loyang kue yang kemudian dibagi jadi 36 potong. "Sempat sisa, ditaruh di bawah etalase. Bukan terjual justru dimakan anaknya (yang punya toko)," tuturnya.
Lalu, Sri pun mengambil langkah untuk ikut pelatihan di bidang kuliner tahun 2006-2007. Penggunaan tepung singkong menjadi bagian dalam pelatihan tersebut. Lantas ia pun mencoba menggunakan tepung singkong ini untuk usahanya. Ia mulai pakai tepung ini sebagai bahan dasar membuat kue tahun 2008. Sejak itu, ia tidak lagi memakai tepung terigu sebagai bahan dasar kuenya, kecuali untuk kue jenis black forest.
Sri menuturkan, dari 20 orang yang ikut pelatihan, hanya dirinya yang masih terus bertahan menggunakan tepung singkong. Awalnya, ia mengaku susah menggunakan tepung yang berasal dari umbi-umbian tersebut. Dikatakannya, kualitas singkong bisa jelek jika musim hujan. "Cuaca bagus, singkong bagus," tuturnya.
Kesulitan lainnya adalah mengenai volume pembelian tepung yang harus dalam jumlah besar dari pabriknya. Setiap pembelian, Sri harus beli minimal 50 kilogram. Satu kilogram tepung singkong seharga Rp 6.000. Karena harus beli banyak, ia pun tidak memakai semua tepung. Sebagian ia jual kembali. "Kan belum banyak di pasaran," ungkapnya.
Kondisi yang demikian tak membuat semangat Sri padam untuk mengembangkan usaha yang sebenarnya membantu program diversifikasi pangan pemerintah. Ia pun menyebutkan banyak hal positif dari tepung singkong ini. Ketimbang tepung terigu, tepung singkong ternyata lebih banyak kandungan serat, protein, zat besi, hingga kalsium. Singkong pun punya kandungan garam yang rendah. "Lebih padat teksturnya daripada tepung terigu," kata Sri menjelaskan perbedaannya ketika diolah menjadi kue.
Karena keunggulan tepung singkong ini, ia pun menyasar anak-anak autis sebagai konsumennya. Karena anak autis harus makan makanan yang gluten free. Jadi tepung dari umbi-umbian menjadi salah satu yang masuk kriteria. Modal yang harus disiapkannya untuk melayani konsumen khusus ini pun terbilang besar. Lantaran kue tidak bisa sembarang membuat. Ada bahan-bahan tertentu yang tidak bisa dikonsumsi. Modalnya, kata Sri, bisa di atas Rp 500.00 untuk sekali pesanan. Untungnya, pesanan lancar-lancar saja. Produk Sri bisa pesan lewat pesan teks (SMS) dan pembayarannya melalui transfer.
Usaha kue browniesnya pun sekarang tidak hanya memakai tepung singkong. Ia juga memakai sagu ganyong yang juga jenis umbi-umbian. Jika tepung singkong didapatkan dari pabrik, sagu ganyong diperolehnya langsung dari petani di daerah Ciamis.
Keanekaragaman bahan pangan yang ditunjukkan dalam usahanya membawa Sri mendapatkan penghargaan dari Kementerian Perdagangan tahun 2009. Sri berhasil menang UKM Award untuk program diversifikasi pangan. Selanjutnya, ia pun menjadi UKM binaan Kemendag. Manfaatnya, ia diikutsertakan dalam sejumlah kegiatan seperti Food Security Summit.
Perlu diketahui, usaha Sri bukanlah tanpa hambatan. Ia bercerita, usahanya ini masih punya masalah permodalan. Pasalnya, ia berkeinginan mempunyai pabrik kue sendiri dan toko kue kecil. Pemasaran juga masih menjadi masalah usahanya. Karena itu, ia pun masih menjajakan produknya dengan cara pesanan. "Masih pesanan misalnya untuk komunitas ibu-ibu (yang anaknya penyandang autis)," tambahnya.
Sekalipun demikian, Sri berharap pendirian pabrik dan toko kue segera terwujud. Sekarang ini dia masih membuat kue brownies dan cookies di dapur rumahnya. "Usaha sih pingin buat mini factory, tapi mahal biaya peralatannya. Ya mudah-mudahan tahun depan," pungkas Sri.

Dari Belut Super Raup Omzet Puluhan Juta

Dari Belut Super Raup Omzet Puluhan Juta
Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak asing lagi dengan belut. Hewan air tawar yang masuk dalam kelompok ikan berbentuk seperti ular ini digemari karena rasa dagingnya yang gurih. Belut boleh dibilang aman dikonsumsi oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Daging belut juga dipercaya dapat menambah vitalitas tubuh manusia.
Selain di rawa-rawa, hewan air ini banyak ditemukan di sawah atau kali (sungai). Lantaran peminatnya cukup banyak, pasokan belut tidak cukup mengandalkan dari tangkapan alam. Makanya, belakangan banyak orang tertarik budidaya belut.
Salah satu varian belut yang mulai banyak dibudidayakan adalah jenis belut super. Berbeda dengan belut pada umumnya, belut super memiliki ukuran lebih besar. Ukuran lingkar tubuhnya mencapai 6,5 cm dengan panjang sekitar 50 cm.
Herman Susilo, salah seorang pembudidaya belut super asal Malang, Jawa Timur, menyatakan, bobot tiga ekor belut super bisa mencapai 1 kg. Belut ukuran jumbo ini banyak dicari pengusaha restoran dan makanan ringan. "Kalau tidak budidaya, susah dapat belut super ini, padahal, pasarnya lebih menjanjikan," kata Herman.
Saat ini, Herman memiliki lima kolam lumpur tempat budidaya belut super. Setiap kolam berukuran sekitar 2x5 meter. Dengan pemberian pakan rutin, Herman bisa memanen belut setiap tiga atau empat bulan sekali. Jadi dalam setahun bisa empat kali panen.
Saat panen, setiap kolam bisa menghasilkan 250 kg belut super. Harga setiap kilonya sekitar Rp 30.000-Rp 35.000. Dengan harga tersebut, omzet yang didapatnya sekitar Rp 40 juta-Rp 50 juta setiap kali panen. Adapun laba bersihnya sekitar 50 persen dari omzet.
Biaya produksi yang dikeluarkan lebih banyak untuk pembibitan. Setiap satu kg bibit belut super ini dijual seharga Rp 40.000. "Sementara pakannya lebih banyak pakan alami, seperti kodok dan cacing," katanya.
Ia menghindari pemberian pelet karena justru dapat menghambat pertumbuhan belut. Selain budidaya belut hingga siap jual, belakangan ia juga mulai melayani penjualan bibit belut super.
Pemain lainnya adalah Prabowo dari Yogyakarta. Ia membudidayakan belut super sejak 2010. Saat ini, ia fokus menjual bibit belut super seukuran 15-20 cm. “Karena kalau bibit setiap bulan bisa langsung jual, sementara kalau tunggu besar itu sampai tiga bulan,” ujarnya.
Bekerja sama dengan petani, ia membudidayakan belut ini di pinggiran sawah. Omzetnya dalam sebulan mencapai Rp 8 juta. Karena bekerja sama dengan pemilik sawah, laba yang didapatnya hanya 20 persen-30 persen. "Jadi saya berbagi dengan pemilik sawah," ujarnya.
Budidaya belut super belakangan semakin digandrungi. Maklum, selain tingginya permintaan pasar, budidaya belut ini juga tidak sulit. Herman Susilo, pembudidaya belut super dari Malang, Jawa Timur bilang, hal utama yang mesti diperhatikan adalah pemberian pakan.

Menurutnya, asupan pakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan belut. Ia menyarankan, sebaiknya belut super lebih banyak diberikan pakan alami, seperti keong, katak, atau cacing ketimbang pakan buatan. "Pakan alami membantu pertumbuhan lebih cepat," kata Herman.

Dengan pakan alami, belut super bisa lebih cepat dipanen karena pertumbuhannya juga menjadi lebih cepat. Jika diberi pakan buatan, belut super baru bisa dipanen dalam waktu enam hingga tujuh bulan sejak awal dipelihara. "Tapi dengan pakan alami bisa panen setiap tiga hingga empat bulan," jelasnya.

Selain itu, kecukupan pakan juga harus diperhatikan. Sebab, bila jumlah pakan kurang bisa menyebabkan terjadinya kanibalisme antar belut. Untuk itu, ia menyarankan pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari.

Untuk metode budidayanya sendiri ada dua cara. Yakni, menggunakan media kolam lumpur dan menggunakan bubu bambu di sawah. Herman sendiri menggunakan media kolam lumpur. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu menyiapkan kolamnya.  Kolamnya sendiri tak perlu terlalu lebar. Cukup dengan diameter 2x5 meter sudah bisa menampung 50 kilogram (kg) bibit belut. Saat panen, bibit sebanyak itu bisa menghasilkan bobot 250 kg.

Setelah kolam jadi, lalu masukkan gedebok pisang dan jerami. Lalu masukkan pupuk kandang untuk mempercepat pembusukan gedebok pisang dan jerami. "Ketika sudah membusuk bisa jadi santapan tambahan belut," katanya.

Setelah pakan tambahan siap, lalu lanjutkan dengan pemberian lumpur kering. Setelah itu, masukkan air dengan kedalaman minimal 15 centimeter (cm). "Proses pembusukan gedebok pisang dan jerami terjadi sekitar dua minggu setelah air masuk," jelasnya. Setelah terjadi pembusukan, maka benih siap dimasukkan.

Cara budidaya yang lain adalah memakai bubu yang ditaruh di sawah. Prabowo, pembudidaya belut dari Yogyakarta menggunakan cara ini. "Keunggulan cara ini tidak perlu lahan." ujarnya.

Ia hanya perlu bekerja sama dengan pemilik sawah. Dalam satu petak sawah, ia biasa menanam 20 hingga 50 bubu sebagai tempat belut bertelur. Untuk makanan, cukup menaruh cacing di sekitar bubu tersebut. Prabowo sendiri hanya fokus menjual bibit belut super ukuran 15 cm-20 cm. “Yang penting telaten perhatikan pakan,” ujarnya. (Eka Saputra/Kontan)SUMBER KOMPAS

Omzet Puluhan Juta dari Mengolah Kulit Kodok

Omzet Puluhan Juta dari Mengolah Kulit Kodok
Guna memenuhi selera pasar, selama ini banyak produsen menawarkan produk fesyen seperti tas dan dompet dengan model unik dan dibuat dari bahan berkualitas. Untuk menghasilkan produk yang menarik, mereka sering menggunakan kulit binatang sebagai bahan baku produk.

Beberapa kulit binatang yang selama ini sering dipakai, seperti kulit ular, buaya, dan sapi. Namun, masih jarang yang menggunakan kulit kodok sebagai bahan baku produk.

Salah satu produsen yang menggunakan kulit kodok sebagai bahan baku produk adalah Cadusa, The Indonesiaz Exotic Leather dari Yogyakarta. Pemilik usaha ini, Ditto Wahyutomo bilang, pembuatan produk fesyen berbahan kulit kodok masih tergolong baru.  "Kulit kodok ini saya pakai sebagai bahan pembuatan tas dan dompet," jelasnya.

Karena pemakaian kulit kodok masih jarang, ia mengklaim, produk tas dan dompetnya berbeda dari yang lain. "Setidaknya itu menjadi ciri khas produk saya," ujarnya.

Menurut Ditto, pemanfaatan kulit kodok sebagai bahan pembuatan tas dan dompet tidak gampang. Perlu keahlian khusus dalam mengolah kulit kodok sehingga menarik dan memiliki kesan eksotis. "Selain itu pasokan kodoknya juga sulit diperoleh," ujarnya.

Selama ini, ia mendapat pasokan kodok dari Papua dan Kalimantan. Ditto mengaku telah memulai usaha ini sejak tahun 2005.

Selain kulit kodok, ia juga menggunakan kulit binatang lain sebagai bahan baku, seperti kulit buaya dan kambing. Selain tas dan dompet, ia juga memproduksi jaket dan sepatu wanita.

Aneka produk fesyen yang dihasilkannya itu dibanderol mulai dari Rp 250.000 - Rp 10 juta per buah. Ditto mengaku bisa meraup omzet rata-rata hingga Rp 50 juta per bulan.

Namun, jika sedang ada pameran, omzetnya bisa mencapai Rp 70 juta. Biasanya, Ditto mengikuti pameran sebanyak tiga kali dalam setahun.

Pelanggannya berasal dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Palembang, Bengkulu, dan Makassar. Ia bilang, bisnis kerajinan dari kulit binatang ini prospeknya bagus.

Martini, pemilik Bagpose dari Bandung, Jawa Barat mengamini, permintaan kerajinan tas atau dompet cukup tinggi. Martini sendiri fokus memproduksi tas dan dompet yang terbuat dari kulit sapi.

Ia membanderol tas buatannya mulai dari harga Rp 300.000 hingga Rp 800.000 per buah. Sementara dompet dibanderol mulai Rp 100.000 sampai Rp 300.000 per buah.  "Pelanggan terbesar saya banyak datang dari Jakarta," kata Martini. (Noverius Laoli/Kontan)SUMBER KOMPAS

12 Wirausahawan Terbesar Sepanjang Masa

Ini 12 Wirausahawan Terbesar Sepanjang Masa

KOMPAS.com — Menjadi seorang wirausaha adalah hal yang mungkin bisa terlihat sulit atau mudah. Menjadi seorang wirausaha bisa jadi panggilan hati. Berwirausaha pun butuh keberanian untuk mengambil risiko.
Hal-hal itu bisa jadi yang dipunyai oleh seorang Jeff Bezos. Awalnya, yakni pada tahun 1992, Jeff telah menjadi seorang wakil presiden senior di perusahaan reksa dana DE Shaw yang berbasis di New York. Lantas ia pun berangan-angan untuk membentuk sebuah perusahaan yang menjual buku melalui internet.
Jeff mengutarakan hal ini kepada bosnya. Apa tanggapan bosnya? "Itu terdengar sebagai ide yang bagus, tapi itu merupakan ide yang lebih bagus bagi seseorang yang belum mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus." Apa yang dikatakan bosnya tak lantas membuat Jeff mengurungkan keinginannya. Inilah ciri lain dari seorang wirausahawan sejati, yakni tidak hanya berani berangan-angan, tetapi juga berani mewujudkan.
Setelah 48 jam berpikir, Jeff keluar dari pekerjaannya yang nyaman itu dan memulai bisnis Amazon.com. Kini ia telah memiliki 56.200 pekerja. Nilai usahanya pun sekitar 80 miliar dollar AS. Apa yang dilakukan Jeff tersebut banyak dinilai oleh para editor hingga penulis senior dalam sejumlah media bisnis adalah suatu hal yang unik. Jeff telah membuat catatan tersendiri dalam perekonomian AS bahkan dunia. Bahkan ia pun dimasukkan sebagai 12 wirausahawan terbesar pilihan majalah Fortune.
Lantas siapa lainnya yang berhak disandingkan bersama Jeff dalam daftar tersebut? Ada Steve Jobs yang membuat Apple menjadi perusahaan yang paling panas dan bernilai di bumi ini.
Mark Zuckerberg yang akan membuat Facebook go public. Bahkan, disebut-sebut penawaran perdana saham media sosial ini akan menjadi yang terbesar sepanjang masa dengan nilai lebih dari 80 miliar dollar AS.
Bill Gates dengan Microsoftnya telah membantu revolusi dalam personal computer (PC). Larry Page and Sergey Brin, mereka adalah pendiri Google yang kini mempunyai nilai pasar sekitar 203,2 miliar dollar AS.
Fred Smith, pemilik perusahaan jasa logistik FedEx. Pengalaman wirausahanya justru didapatkan Fred ketika melayani negara dalam Perang Vietnam.
Herb Kelleher, pemilik perusahaan Southwest Airlines. Ia mempunyai pandangan bahwa "Pelanggan adalah orang yang pertama datang. Dan jika kamu memperlakukan karyawan kamu dengan baik, coba tebak? Pelanggan kamu datang kembali dan itu membuat para pemegang sahammu pun senang. Mulai dengan pegawai dan sisanya akan mengikuti."
Howard Schultz, si empunya kedai kopi Starbucks. Ia berhasil menghidupkan kembali merek Starbucks dengan menantang cara lama dalam melakukan sesuatu.
Sam Walton kini sukses mengelola toko Wal-Mart. Nasihatnya adalah berikan orang apa yang mereka mau. Dengan nasihatnya itu, Wal-Mart pun sukses dengan penjualan mencapai 446,9 miliar dollar AS.
Kemudian John Mackey, pemilik Whole Foods. Ia pun kini telah menjalankan Whole Foods Market dengan lebih dari 300 supermarket dan memperkerjakan lebih dari 56.000 orang.
NR Narayana Murthy, pendiri Infosys sebagai salah satu perusahaan terbesar di India yang membantu mentransformasi ekonomi negara Asia Selatan ini dan memasukkannya sebagai ekonomi yang patut diperhitungkan di dunia.
Oprah Winfrey yang dikenal dengan program televisi yang menginspirasi banyak orang. Ia pun disebut mempunyai perusahaan media yang tangguh.
Anita Roddick, pendiri Body Shop. Anita berhasil menjajakan produk perawatan tubuhnya yang bersahabat dengan alam.
Muhammad Yunus, si pendiri Grameen Bank. Banknya tersebut telah membantu banyak orang miskin dengan memberikan kredit mikro di Bangladesh. Kini model Grameen telah berkembang di lebih dari 100 negara dan membantu jutaan orang.
Dua belas orang tersebut adalah pilihan secara subyektif dengan penilaian bahwa mereka dan usahanya telah berdampak signifikan secara sosial dan ekonomi. Mereka telah menjadi inspirasi bagi para pekerjanya dan wirausahawan lainnya. Ada inovasi yang mereka ciptakan. Mereka telah memiliki organisasi yang berkelanjutan dan jika digabungkan memiliki nilai pasar lebih dari 1,7 triliun dollar AS. Mereka pun mempekerjakan lebih dari 3 juta orang, mulai dari yang tertinggi yakni 2,1 juta pekerja di Wal-Mart dan lebih dari 3.000 orang di Facebook.

11 Waralaba Asing Siap Masuk Indonesia

11 Waralaba Asing Siap Masuk Indonesia
Stabilitas perekonomian dan membaiknya ekonomi masyarakat menjadikan Indonesia sebagai pasar menarik bagi bisnis waralaba. Karena itu, waralaba asing terus berdatangan. Untuk mengantisipasinya, pemerintah sedang menggodok aturan soal waralaba asing.
Sebelas waralaba asing yang dibawa oleh AS Louken, Kamis (29/3/2012), memaparkan potensi bisnisnya. Mereka adalah Bonia (Singapura), Li-ning (China), Berrylite Frozen Yogurt (Singapura), C House (Italia), Country Chicken (Australia), Gogo Franks (Singapura), Love & Co (Singapura), Mother En Vogue (Singapura), Pho Hoa (Amerika Serikat), Physio Asia Therapy Centre (Singapura), dan Skin Inc (Singapura).
Beberapa bulan lalu, puluhan waralaba AS juga datang ke Indonesia dan menyatakan niatnya untuk mencari partner lokal dan berinvestasi.
Country Manager AS Louken Indonesia Danny Anthonius mengatakan, kehadiran 11 waralaba tersebut menjadi kesempatan baru bagi pebisnis lokal. ”Kami siap bekerja sama dengan merek-merek lokal. Kami ingin berkontribusi bagi Indonesia, baik membawa merek asing masuk maupun sebaliknya,” paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Komite Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Waralaba dan Lisensi Amir Karamoy mengatakan, saat ini pemerintah sedang menggodok aturan terkait dengan waralaba asing. ”Aturan tersebut diharapkan bisa mengakomodasi semua kepentingan terkait,” ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, aturan baru terkait dengan waralaba asing dibuat untuk memastikan keberadaan mereka bermanfaat bagi Indonesia. ”Tanpa aturan tegas, mereka bisa menggusur ekonomi lokal,” katanya.
Waralaba diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2008. Tahun 2012 diprediksi akan masuk 100 waralaba asing ke Indonesia. Sampai tahun 2011 tercatat ada 400 waralaba asing yang sudah beroperasi di Indonesia. Dari sekitar Rp 114 triliun omzet waralaba tahun 2011, sekitar 60 persen di antaranya berasal dari waralaba asing.
Menurut pakar perdagangan internasional dari Institut Pertanian Bogor, Rina Octaviani, di Bogor, Jawa Barat, masuknya industri waralaba ke Indonesia sangat menguntungkan konsumen.
Dalam jangka pendek, pertumbuhan konsumsi yang tinggi bagus. Namun, kalau pertumbuhan konsumsi tidak dibarengi dengan peningkatan investasi, terutama untuk industri, justru itu akan mendorong inflasi. (ENY/MAS) SUMBER KOMPAS