MAU SUKSES!! BUKAN BASA-BASI & DAHSYAT.. .....

Rabu, 14 Juni 2017

Inspiratif Soejanto Widjaja pendiri pers SEPEDA POLYGON



Hasil gambar untuk Bapak Soejanto Widjaja sepeda polygon

Pada Tahun 1989 Bapak Soejanto Widjaja, sering di panggil Ko Yanto adalah pendiri dan pemilik Pt. Insera Sena. Sejak berdiri, Pt. Insera Sena sudah membuat sepeda kelas dunia seperti Kuwahara, Mustang, Avanti, Kona, Marin, Scott dll... Sepeda-sepeda itu pesanan untuk diekspor ke negara-negara Eropa seperti Inggris dan Jerman.
Hasil gambar untuk sepeda polygon
   Baru pada tahun 1997, Pt. Insera Sena membuat sepeda dengan merek Polygon untuk pemasaran Nasional Indonesia, dan Regional export ke Malaysia, Singapura, Australia. Saat itu ada Sepeda Polygon Tango, Quatro, Vector, Lerun, Siera, dll... dan sampai sekarang ada kita maklumi Sepeda Polygon Premier, Xtrada, Collosus, Heist, Hellios, dll...
   Dan pada tahun 2014 Polygon buka kantor showroom cabang nya di California, USA. Disana para pengunjung terlihat antusias dengan Polygon Bikes. Respon media dan juga masyarakat pesepeda umum sangat baik dan sangat bersemangat juga karena dikejutkan dengan sepeda All Mountain bertravel 160mm si Polygon Collosus N9 Carbon Enduro All Mountain yang kelihatan murah tapi tidak murahan... All Mountain Bikes Best Buy Of The Year 2014-2015 in USA.
Setelah posisinya kuat di dalam negeri, Polygon membangun mereknya di dunia dan 62 negara telah dirambahnya. Bagaimana strategi menggarap pasar dalam dan luar negeri?
Di Indonesia, siapa yang tak kenal merek sepeda Polygon yang diproduksi PT Insera Sena. Sepeda asal Sidoarjo, Jawa Timur, yang telah menjadi merek sepeda nasional ini cukup menguasai pasar. Polygon mampu bersaing di tengah gempuran sepeda-sepeda merek dunia yang membanjiri negeri ini. Menurut data PT Dispoly Indonesia, pangsa pasar Polygon saat ini mencapai 60% di kategori sepeda gaya hidup (life-style bike).
Keberhasilan Polygon menembus pasar dalam dan luar negeri antara lain karena konsistensinya dalam produksi. Sejak awal Polygon memang dibuat sebagai produk gaya hidup, bukan sekadar alat transportasi. Hal ini juga dinyatakan Soejanto Widjaja, pendiri dan pemilik Insera Sena. “Memang itulah tujuan Polygon dibuat sejak awal kami mendirikannya tahun 1989,” ujarnya. Maka, dari awal pula, Polygon tidak sembarangan menentukan desain, varian, kualitas ataupun harga. “Produk kami mampu bersaing dengan produk-produk dari luar negeri,” ujar Ronny Liyanto, Direktur Dispoly Indonesia , anak perusahaan Insera yang khusus memasarkan Polygon, yang harganya pun bersaing mulai dari Rp 1,2 juta hingga Rp 80 juta.

Keputusan menjadi produk gaya hidup sekaligus merupakan diferensiasinya dari pemain lokal lain yang sudah ada di Indonesia. “Itulah ceruk pasar yang belum banyak digarap saat itu,” demikian alasan Ronny. Soejanto menambahkan, jika diposisikan sebagai alat transportasi, sepeda Polygon akan kalah bersaing dengan moda transportasi lain seperti mobil dan sepeda motor, sehingga sepeda hanya akan selalu menjadi pilihan terakhir. Namun sebaliknya, karena diposisikan sebagai produk gaya hidup, Polygon bisa naik kelas menjadi produk first class.

Kebetulan pula pada saat Polygon dibuat, tren kesadaran akan transportasi ramah lingkungan sudah mulai menyeruak. Ini benar-benar menguntungkan sehingga Insera Sena tidak telalu sulit membuat desain sepeda yang mengusung gaya hidup. Apalagi, sejak berdiri, Insera sudah memproduksi sejumlah sepeda kelas dunia seperti Kuwahara, Mustang, Avanti, Kona, Marine dan Scott dengan skema original equipment manufacturer (OEM). Sepeda-sepeda itu kemudian diekspor ke negara asalnya. Sebanyak 99% produksi Insera diekspor, 60% di antaranya ke negara-negara Eropa seperti Inggris dan Jerman.

Bersamaan dengan itu, Insera Sena belajar membuat sepeda berkualitas kelas dunia sambil menunggu pasar Indonesia siap. Nah, memasuki 1997, Insera mulai melirik dan menggarap pasar dalam negeri dengan membuat merek sendiri bernama Polygon. Keputusan Insera mulai menggarap pasar dalam negeri juga dipengaruhi prediksi menggeliatnya ekonomi Cina 10 tahun ke depan.

“Karena Cina akan berkembang pesat, kami harus prepare dengan punya market sendiri dan brand sendiri. Waktu itu ditetapkan Indonesia, Malaysia, Singapura, Australia sebagai pasar regional dan Polygon dipilih sebagai mereknya. Dan sejak saat itu, step by step, kami membangun pasar dengan brand sendiri, dimulai dari Indonesia,” tutur Ronny yang juga Ketua IMA DKI Jakarta.

Memang bukanlah hal mudah memasarkan sepeda di tengah kondisi krisis ekonomi pada 1997. Apalagi, bicara soal gaya hidup di tengah kondisi kusut. Namun, tim Polygon tak mau menyerah. Hampir seluruh pelosok negeri disambangi untuk mencari mitra yang mau jadi dealer penjualan Polygon. Banyak yang menolak, tetapi ada juga yang mau diajak kerja sama. “Bayangkan waktu itu tahun 1999, sepeda Polygon dibanderol Rp 500 ribu per unit. Sementara sepeda yang sudah ada paling mahal Rp 200 ribu,” ungkap Ronny menceritakan tantangan yang dihadapi kala itu.

Rodalink Surabaya
Sejalan dengan upaya membangun merek sendiri, yaitu Polygon, Insera Sena juga membangun jaringan dealer sendiri, bernama Rodalink, di bawah CV Roda Lintas Khatulistiwa — anak perusahaan Insera. Rodalink hadir dengan mengusung konsep baru toko sepeda yang lebih modern. Jaringan gerai ini mulai dibangun di Surabaya, lalu Jakarta, Balikpapan hingga Singapura yang mulai dirambah pada 1998. Sekarang ada 48 gerai, termasuk lima gerai di Malasyia dan lima gerai lagi di Singapura. Di Rodalink juga dijual sepeda dan aksesori merek ternama dunia seperti Dahon, Marine dan Kona. “Rodalink itu nama store band kami, sedangkan Polygon brand produk kami,” ungkap Ronny yang bergabung dengan Polygon sejak 1999.

Untuk menjalankan misinya memproduksi sepeda sebagai gaya hidup, selain membuat pernik-pernik dan aksesori bersepeda, sejak 1999 Polygon rajin menggelar event bersepeda, serta pameran di mal dan Pekan Raja Jakarta (PRJ). Ronny mengenang, saat itu tak mudah menggelar pameran sepeda di mal karena dipandang sebelah mata. Tak mengherankan, banyak penolakan dari pengelola mal atau pameran. Mal pertama yang menerima Polygon berpameran adalah Mal Galaxy di Surabaya dan Mal Taman Anggrek di Jakarta. Hal yang sama juga dilakukan di Singapura dan Malaysia yang dirambah Insera sejak 2002.

Memang hingga saat ini, Polygon sangat rajin menggelar dan mensponsori event. Dalam setahun tak kurang dari 400 kegiatan. Santoso Lie, Head of Public Relations and Communication Dispoly Indonesia, mengatakan bahwa untuk mengelola event sebanyak itu, pihaknya sering menggandeng sejumlah komunitas dan polygoners (komunitas Polygon) yang jumlahnya ribuan di berbagai kota. Menggandeng komunitas menjadi salah satu nilai lebih Polygon dalam menggarap pelanggan, dan bisa diperbantukan dalam mengelola event sebanyak itu. “Kami menyeleksi ribuan proposal yang masuk yang mendukung visi dan misi Polygon,” katanya.

Selain menggarap event, Polygon pun rajin berpromosi lewat jalur above the line (ATL) dan below the line (BTL) serta media sosial yang memiliki tim sendiri. “Semua kami bidik untuk melakukan branding Polygon,” ungkap Santoso. Promo BTL dibagi dua: sosial (CSR) dan nonsosial. Contoh untuk sosial adalah memberikan dukungan dalam berbagai bentuk bagi komunitas, panti asuhan, pemerintah, dll. “Bentuk bantuannya bisa berupa pemberian atau pinjaman sepeda, tempat parkir atau gantungan sepeda. Bahkan, di berbagai hotel atau restoran hal tersebut juga sering kami lakukan,” kata Didik Suharsono, Head Promotion East Dispoly Indonesia, menambahkan.

Polygon juga rajin menggelar kompetisi. Yang akan terus dilakukan adalah kompetisi membuat desain sepeda yang penyelenggarannya bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung. Untuk menjaring peserta dalam kompetisi tersebut pihaknya dan ITB sampai melakukan roadshow ke luar negeri seperti Jepang dan Malaysia. Tak mengherankan, peserta dalam kompetisi tersebut pun banyak yang dari luar negeri. Selain dari Jepang dan Malaysia, juga ada yang dari Singapura dan Jerman.

Apa yang dilakukan di Indonesia juga dilakukan Polygon di luar negeri untuk membangun mereknya. “Memang, saat ini Polygon sedang gencar-gencarnya membangung brand di luar negeri,” ujar Ronny. Hal itu dimulai dengan membangun gerai sepeda yang modern, perusahaan distribusi dan tim pemasarannnya. Strategi pemasarannya hampir sama dengan di dalam negeri. Hanya saja, intensitasnya tidak sesering di dalam negeri mengingat biaya yang dikeluarkan di luar negeri jauh lebih mahal.

Kendati promosi dan kegiatan yang dilakukan Polygon sangat banyak dan bervariasi, diakui Ronny dan Santoso, bujet promosinya tidaklah besar. “Ya 5% dari total penjualanlah,” tutur Ronny tanpa mau menyebut angkanya. Namun, sumber SWA menyebutkan, anggaran promosi Polygon bisa mencapai hampir Rp 10 miliar, dan selalu naik setiap tahun.

Lalu, dari semua aktivitas yang dilakukan itu, bagaimana kinerjanya? “Sales kami tumbuh 20% per tahun. Bahkan, di 2011 hampir 30%,” kata Ronny. Dari total sepeda yang diproduksi Insera Sena, sebanyak 65%-70%-nya diekspor dan sisanya untuk pasar dalam negeri. Di 2012, ditargetkan komposisinya bakal bergeser: 40% pasar dalam negeri dan 60% ekspor ke 62 negara. Yang diekspor bukan hanya merek Polygon, tetapi juga merek-merek pesanan pemain sepeda di luar negeri seperti Kona, Marine, Scott dan Mustang. Ekspor yang paling dominan (60%) adalah ke Eropa dan sisanya ke Amerika Serikat serta Asia.

Untuk meningkatkan kinerjanya, Insera Sena baru saja mengoperasikan pabrik barunya di Sidoarjo yang tak jauh dari pabrik pertama. Pabrik baru di atas lahan sekitar 10 hektare itu memiliki fasilitas tiga lantai. Tim SWA pun berkesempatan berkunjung ke pabrik baru tersebut yang terlihat modern dan memiliki kapasitas produksi yang lebih besar. “Produksi kami pada 2011 mencapai sekitar 600 ribu unit. Target kami di 2012 ini akan memproduksi 750 ribu unit,” ujar Mulyono, General Manager Pabrik Insera Sena.

Ditambahkan Ronny, dari total produknya yang dipasarkan di dalam dan luar negeri, 50%- nya atau sekitar 300 ribu unit adalah merek Polygon dengan berbagai varian produk dari harga jutaan sampai puluhan juta. “Yang paling laku yang berharga Rp 2-5 juta sekitar 60%,” katanya. Ia juga menyebutkan, di Indonesia total penjualan sepeda mencapai 6-7 juta unit per tahun. Namun, untuk kategori life-style bike baru 500-800 ribu unit per tahun. Nah, Polygon yang bermain di kategori sepeda gaya hidup menguasai segmen ini. “Di life-style bike, Polygon menguasai sekitar 60%,” ujarnya. Di Singapura dan Malaysia, Polygon juga menjadi penguasa segmen tersebut.

Agus W. Soehadi, guru besar Prasetiya Mulya Business School, menilai salah satu kekuatan strategi pemasaran Polygon adalah aktivitas pemasarannya fokus pada  constant engagement, tidak seperti umumnya perusahaan yang mengandalkan one-way communication. Artinya, Polygon secara aktif melakukan engagement dengan konsumen di mana pun mereka berada atau beraktivitas melalui pertautan asosiasi emosi antara merek dan nilai-nilai yang dipercaya oleh target konsumennya.
Sebagai contoh, Polygon bersama komunitas sepeda memperjuangkan bicycle lane agar pengguna sepeda bukan sebagai warga negara kelas empat setelah mobil, angkot dan motor. Atau, mereka bersama komunitas melobi pemerintah daerah demi memperjuangkan car free day. Semua kegiatan ini akan mempererat ikatan antara konsumen dan mereknya. “Hubungannya tidak sekadar pembeli dan penjual, tetapi brand tersebut dapat teman seperjuangannya, yakni konsumen,” Agus menegaskan.

Ia juga melihat apa yang dijalankan Polygon sudah tepat dalam mereplikasi strategi pemasarannya, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Sebagai contoh, bekerja sama dengan salah satu bank di Singapura dan Malaysia untuk mensponsori event yang terkait dengan kegiatan bersepeda. Dan satu hal lagi. “Pada dasarnya, Polygon memiliki kemampuan memproduksi sepeda dengan kualitas baik, karena selama ini mereka juga sebagai pemasok beberapa top brand sepeda di Eropa,” ungkapnya.
Nah, tantangan bagi Polygon saat ini adalah harus memperbanyak jenis medium yang digunakan untuk engage konsumennya. Tidak hanya mengandalkan nontradisional (street marketing through fun bike, kompetisi, dll.), tetapi juga mobile application yang berisikan aplikasi yang terkait dengan minat dan gaya hidup target pasarnya atau virtual activities melalui platform “second life”.

Pihak Polygon sendiri ke depan akan lebih fokus untuk meningkatkan kualitas produknya, bukan kuantitas. “Saat ini, kami tidak bicara kuantitas, tetapi lebih ke kualitas. Jadi, kami mengejar kesempurnaan sebuah sepeda, bukan jumlahnya,” ungkap Ronny. Hal ini dilakukan karena Polygon berambisi menjadi merek internasional yang memiliki kualitas produk kelas dunia. Selain memberikan perhatian penuh pada masalah kualitas produk, dalam waktu dekat Polygon juga akan membuka kantor cabangnya di AS (California) dan negara-negara Eropa sehingga akan lebih mudah menggarap pasar di tingkat global.(*)

Inspiratif Sudhamek Pendiri GARUDAFOOD



Hasil gambar untuk pendiri garudafood
Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto adalah entrepreneur, sekaligus figur pemimpin di GarudaFood. Sejak mengambil alih perusahaan keluarganya, sebuah pabrik tepung tapioka lokal, Sudhamek berhasil mengantarkan GarudaFood untuk terbang melanglangbuana ke seluruh dunia. Versi November 2013, Forbes menilai kekayaannya sebesar US$830 juta atau 9 Trilliun Rupiah, menempatkannya di posisi ke 35 dari 50 orang terkaya di Indonesia.
Akan tetapi, seluruh pencapaian ini tidak taken for granted, tidak langsung didapat. Tahukah Anda bahwa Sudhamek adalah mantan korban bully? Kehidupan Sudhamek penuh dengan hikmah yang bisa dipetik oleh setiap entrepreneur.

Ada kebaikan di segala kondisi.

Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, lahir pada tanggal 20 Maret 1956 di Rembang, Jawa Tengah. Ia dan keluarganya tinggal di perkampungan nelayan miskin. Keluarganya tak kaya, namun juga tak terlalu miskin. Tak semua kebutuhan Sudhamek terpenuhi. Katanya, ia jarang menyantap daging ayam. Dan kalaupun ada, anak bungsu dari 11 bersaudara itu, kebagian potongan paling kecil. Meski begitu, Sudhamek bersyukur tak pernah kurang asupan protein. Di tepi pantai, tempat ia tinggal, bertumpuk ikan laut yang segar dan murah.

Jadilah tuan bagi hidupmu sendiri.

Sudhamek memulai pendidikannya dengan sangat lambat. Bahkan nyaris tidak naik kelas ketika SD. Dino Patti Djalal dalam bukunya “Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang” menulis bahwa sejak kecil, Sudhamek seringkali mendapat cacian akibat namanya yang ‘unik’.
“Setiap pagi, ketika diabsen satu persatu, saya merasa bahwa itulah momen penghukuman bagi saya. Begitu nama saya dipanggil, maka seluruh kelas akan tertawa sambil melihat saya,” katanya.
Tekanan batin inilah yang membuat prestasi sekolahnya jelek sekali hingga SMA. Kalau syarat naik kelas adalah K6 (nilai merah tidak boleh akumulatif lebih dari 6), ia selalu nyaris di border line. Hingga, ayahnya berpesan “Jadilah tuanmu sendiri dalam hidup ini.” Kemudian hidupnya berubah.

Kekuatan kehendak untuk berbuat.

Selepas SMA, Sudhamek masuk di Fakultas Ekonomi sebuah Universitas di Salatiga. Diakuinya, pilihan ini adalah tidak sengaja. Akan tetapi, ketika melihat nilai kuliahnya di fakultas ekonomi itu bagus, ia mulai jatuh cinta pada ilmu ekonomi. Sudhamek merasa kalau dirinya tidaklah sebodoh yang ia bayangkan. Kepercayaan dirinya pun mulai tumbuh. Ia menjelma menjadi seorang mahasiswa gaul yang fasih berbicara di depan publik. Sudhamek percaya bahwa “will power” yang membuatnya berubah, semacam kekuatan kehendak untuk berbuat. Ia memang tak pernah menjadi murid terpandai. Namun, kata Sudhamek, karena kekuatan kehendak itulah, ia berhasil menyabet dua gelar sarjana sekaligus, ilmu ekonomi  dan ilmu hukum.
 Hasil gambar untuk garudafood

Memburu pengalaman.

Lulus kuliah, bukan berarti Sudhamek langsung meneruskan bisnis keluarga, meskipun secara lokal, nyatanya bisnis keluarga sangat menjanjikan. Ia mampir dulu untuk menimba ilmu dulu di berbagai perusahaan. Sudhamek bergabung dengan PT Gudang Garam, Kediri. Dalam waktu 8 tahun, beliau sudah dipercaya untuk menjadi Presiden Direktur di PT. Trias Santosa Tbk, anak perusahaan Gudang Garam. Belasan tahun ia belajar manajemen, dan kepemimpinan mengelola korporasi. Semua pelajaran itu kemudian diterapkannya ketika ia mengambil alih bisnis warisan ayahnya, PT Tudung, yang awalnya bergerak di bisnis tepung tapioka. Di bawah kepemimpinan Sudhamek, perusahaan itu berubah nama menjadi PT Tudung Putrajaya (TPJ), bergerak di produksi kacang garing, meskipun masih tanpa merek. Inilah cikal bakal GarudaFood. Mulai 1987, mereka menjual kacang produksinya dengan merek ‘Kacang Garing Garuda.’ Kacang Garuda meledak di pasaran.

Inovasi harga mati.

Menggunakan semua pengalaman kerja sebelumnya, Sudhamek berhasil memodernkan GarudaFood. Inovasi demi inovasi terus dilakukan. Contohnya adalah keberhasilan GarudaFood mendirikan perusahaan distribusi. Dari dulunya hanya fokus dalam produk kacang, kini telah menghasilkan 200 produk makanan dan minuman. Puncaknya, GarudaFood menjalin kerjasama dengan brand besar dari Jepang, Suntory. Akhir tahun lalu, mereka meluncurkan merk minuman teh botol, Mirai. Ada untungnya di bisnis beverage. Saat Indonesia digilas krisis moneter pada 1998, GarudaFood justru bertahan. Ini karena mereka menguasai 60-70 persen pangsa pasar. Bahkan, berkat kerjasama dengan Suntory, kini GarudaFood merambah pasar dunia.

Perusahaan harus mengapresiasi kultur.

Beliau menekankan pentingnya kultur dalam membangun GarudaFood. Kalau perusahaan itu mempunyai kultur yang baik, maka sebuah perusahaan akan berperforma baik pula. Bagi Sudhamek, penting sekali untuk membangun aspek spiritual dalam perusahaan. Moralitas karyawan yang baik akan memberikan hasil yang baik pula untuk perusahaan. Seorang pemimpin hebat harus mampu menyentuh aspek manusia semua orang yang dipimpinnya dengan cerdas dan arif. Dengan kemampuan spiritual yang ditambahkan dengan kompetensi, maka perusahaan akan menjadi lebih dinamis dalam bertumbuh.

Regenerasi.

Kini, dengan besarnya GarudaFood, Sudhamek merasa sudah saatnya bagi beliau untuk pensiun. Beliau merasa bahwa sinar matahari pemimpin baru GarudaFood bisa tertutup apabila beliau masih aktif. Dalam sebuah proses suksesi yang berhasil, beliau menyerahkan posisi sebagai CEO GarudaFood pada Hardianto Atmadja. Kini Sudhamek memilih untuk menjadi mentor GarudaFood, terutama dalam menjaga budaya spiritual dan inovasi.
Sudhamek, yang dulu anak kecil minder bernama aneh itu, berhasil meraih berbagai penghargaan, secuil di antaranya adalah Ernst & Young Indonesia Entrepreneur of The Year 2004, dan The Most Admired CEO 2004, 2005, 2006, 2007.

Inspiratif Sudono Salim Pendiri INDOFOOD



Soedono Salim. Nama Tionghoanya adalah Liem Sioe Liong lahir di Tiongkok tanggal 19 Juli 1916, Dia merupakan pendiri Grup Salim. Kepemilikan Grup Salim meliputi Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, BCA, Indomaret, Indomarco, PT Mega, Bank Windu Kencana, PT Hanurata, dan PT Waringin Kencana dan lain-lain.

Dia merupakan salah satu konglomerat dan pengusaha sukses asal Indonesia. Ia sempat menduduki peringkat pertama sebagai orang terkaya di Indonesia dan Asia. Perjalanan suksesnya dimulai di sebuah pelabuhan kecil. Fukien di bilangan Selatan Benua Tiongkok.

Dia dilahirkan di situ pada tahun 1916. Kakaknya yang tertua Liem Sioe Hie kini berusia 77 tahun sejak tahun 1922 telah lebih dulu beremigrasi ke Indonesia yang waktu itu masih jajahan Belanda kerja di sebuah perusahaan pamannya di kota Kudus.

Di tengah hiruk pikuknya usaha ekspansi Jepang ke Pasifik, dibarengi dengan dongeng harta karun kerajaan-kerajaan Eropa di Asia Tenggara, maka pada tahun 1939, Liem Sioe Liong mengikuti jejak abangnya yang tertua. Dari Fukien, ia Berangkat ke Amoy, dimana bersandar sebuah kapal dagang Belanda yang membawanya menyeberangi Laut Tiongkok. Sebulan untuk kemudian sampai di Indonesia.

Sejak dulu, kota Kudus sudah terkenal sebagai pusat pabrik rokok kretek, yang sangat banyak membutuhkan bahan baku tembakau dan cengkeh. Dan sejak jamam revolusi Liem Sioe Liong sudah terlatih menjadi supplier cengkeh, dengan jalan menyelundupkan bahan baku tersebut dari Maluku, Sumatera, Sulawesi Utara melalui Singapura untuk kemudian melalui jalur-jalur khusus penyelundupan menuju Kudus.

Sehingga tidak heran dagang cengkeh merupakan salah satu pilar utama bisnis Liem Sioe Liong pertama sekali, disamping sektor tekstil. Dulu juga dia, banyak mengimpor produksi pabrik tekstil murahan dari Shanghai.

Di Kudus Liem berkenalan dengan gadis asal Lasem. Gadis itu sekolah di sekolah Belanda Tionghoa. Liem melamarnya, tapi orangtua si gadis tidak mengizinkan, lantaran takut anak gadisnya akan dibawa ke Tiongkok. Kekuatiran itu timbul melihat tampang Liem yang masih totok. Tapi, Liem tak mau menyerah.

Akhirnya lamarannya diterima dan diizinkan menikah. Pesta pernikahannya, bahkan dirayakan selama 12 hari. Maklum, keluarga istrinya cukup terpandang. Setelah menikah, Liem makin ulet bekerja dan berusaha. Usahanya berkembang. Tapi, ketika awal 1940-an, Jepang menjajah Indonesia, usahanya bangkrut.

Ditambah lagi, dia mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpanginya masuk jurang. Seluruh temannya meninggal. Hanya Liem yang selamat, setelah tak sadarkan diri selama dua hari. Kemudian, Liem pindah ke Jakarta.

Hasil gambar untuk Soedono Salim and The Gang of Four
 Sudono salim dan the geng of four


Seirama dengan masa pemerintahan dan pembangunan Orde Baru, bisnisnya pun berkembang demikian pesat. Pada tahun 1969, Om Liem bersama Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad, yang belakangan disebut sebagai The Gang of Four, mendirikan CV Waringin Kentjana. Om Liem sebagai chairman dan Sudwikatmono sebagai CEO. The Gang of Four ini kemudian tahun 1970 mendirikan pabrik tepung terigu PT Bogasari dengan modal pinjaman dari pemerintah.

Bogasari yang memonopoli suplai tepung terigu untuk Indonesia bagian Barat, yang meliputi sekitar 2/3 penduduk Indonesia, di samping PT. Prima untuk Indonesia bagian Timur. Hampir di setiap perusahaan Liem Sioe Liong dia berkongsi dengan Djuhar Sutanto alias Lin Wen Chiang yang juga seorang Tionghoa asal Fukien.

Bogasari sebuah perusahaan swasta yang paling unik di Indonesia. Barangkali hanya Bogasarilah yang diberikan pemerintah fasilitas punya pelabuhan sendiri, dan kapal-kapal raksasa dalam hubungan perteriguan bisa langsung merapat ke pabrik.

Ketika pertama berdiri, PT Bogasari berkantor di Jalan Asemka, Jakarta dengan kantor hanya seluas 100 meter. Kemudian tahun 1975 kelompok ini mendirikan pabrik semen PT Indocement Tunggal Perkasa. Pabrik ini melejit bahkan nyaris memonopoli semen di Indonesia. Sehingga kelompok ini sempat digelari Tycoon of Cement.

Setelah itu, The Gang of Four ditambah Ciputra mendirikan perusahaan real estate PT Metropolitan Development, yang membangun perumahan

mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. Selain itu, Om Liem juga mendirikan kerajaan bisnis bidang otomotif di bawah bendera PT Indomobil.

Bahkan merambah ke bidang perbankan dengan mendirikan Bank Central Asia (BCA) bersama Mochtar Riyadi. Di tahun 1970-an. Bank Central Asia ini telah bertumbuh menjadi bank swasta kedua terbesar di Indonesia dengan total asset sebesar US$ 99 juta. Belakangan Mochtar Riady membangun Lippo Bank.

Ketika itu, Om Liem pernah jadi orang terkaya di Indonesia dan Asia. Serta masuk daftar 100 orang terkaya dunia. Namun, seirama dengan mundurnya Presiden Soeharto dan akibat terjadi krisis moneter, bisnis dan kekayaannya pun turun. Bahkan, Om Liem terpaksa memilih bermukim di Singapura, setelah rumahnya di Gunung Sahari dijarah massa reformasi.

Setelah peristiwa tersebut, ia mulai mengalihkan kepengurusan bisnisnya kepada anaknya Anthony Salim, lalu pindah dan tinggal di Singapura hingga tutup usia. Ia dikenal luas masyarakat dekat dengan mantan Presiden ke-2 Indonesia Soeharto. Usahanya diteruskan anaknya yakni Anthony Salim dan menantunya Franciscus Welirang.

Hasil gambar untuk Soedono Salim and The Gang of Four


Soedono Salim


 Hasil gambar untuk Soedono Salim dan soeharto




Soedono Salim dan Soeharto
Begitu perkasanya dia di bidang perekonomian Indonesia dewasa ini, mungkin menjadi titik tolak majalah Insight, Asia’s Business Mountly terbitan Hongkong dalam penerbitan bulan Mei tahun ini, menampilkan lukisan karikatural Liem Sioe Liong berpakaian gaya Napoleon Bonaparte.

Dadanya penuh ditempeli lencana-lencana perusahaannya. Perusahaan holding company-nya bernama PT Salim Economic Development Corporation punya berbagai macam kegiatan yang dibagi-bagi atas berbagai jenis divisi; masing-masing adalah:
  1. divisi perdagangan
  2. divisi industri
  3. divisi bank dan asuransi
  4. divisi pengembangan (yang bergerak dibidang hasil hutan dan konsesi hutan)
  5. divisi properti yang bergerak dibidang real estate, perhotelan, dan pemborong
  6. divisi perdagangan eceran
  7. divisi joint venture.

Setiap divisi membawahi beberapa arah perusahaan raksasa, berbentuk perseroan-perseroan terbatas. Pelbagai kemungkinan untuk lebih mengembangkan lajunya perusahaan sekalipun tidak akan meningkatkan permodalan, seperti go-public di pasar saham Jakarta, – dilangsungkan group Soedono Lem Salim dengan gencar. Halangan maupun isu bisnis yang mengancam perusahaannya, nampak tak membuat Liem cemas. Seperti katanya kepada Review,
...Jika anda hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang, anda akan gila. Anda harus melakukan apa yang anda yakini. - Soedono Salim.
Bermodal kalimat pendeknya itu pulalah mengantar Liem Sioe Liong muda di Kudus yang juga terkenal sebagai Lin Shao Liang menjadi Soedono Salim si Raja Dagang Indonesia, belakangan ini. Sudono Salim atau Liem Sioe Liong meninggal dunia dalam usia 96 tahun. Berdasarkan informasi yang beredar, pengusaha kakap itu wafat di Singapura pada tanggal 10 Juni 2012. (Dikutip dari biografiku.com)